Disini, ditempat ini, adalah kali terakhir aku melihatmu, menangis, tersedu.
entah apa yang ada di benakmu saat itu, aku benar benar tidak tau, barangkali itu adalah tangis bahagiamu karena pada hari itu, adalah hari dimana engkau barada pada dua masa, masa lalu dan masa depan.
atau mungkin itu adalah tangis terakhirmu yang hendak kau pertunjukan kepadaku.
entahlah, aku hanya mampu mengira, menerka, karena sejatinya manusia hanya mampu meraba, apalagi bagi kaum adam, yang hobinya adalah “meraba”
disini aku ingin bersajak tentangmu
bahwasanya engkau adalah orang terbaik yang pernah aku temui, bahwa sebenarnya engkau adalah gambaran dari wanita-wanita tegar, tegas dan tidak pernah kalah oleh lelah, sekaligus engkau adalah wanita yang begitu lembut,
oleh karena itu, dahulu aku benar benar takjub, dan hingga kini pun, kekaguman itu tidak pernah berkurang kadarnya.
dan kini kita berpisah disini di jembatan ini. tak perlu penjelasan, tak perlu di jelaskan, karena tidak akan mengubah laju kereta, nasi sudah menjadi bubur, bilang saja, ini jalanku dan ini jalanmu meraih mimpi tak perlu orang tau, hidup ini memang tidak boleh berpura-pura, tidak boleh di reka-reka atau di yasa-yasa.
barangkali saja kita akan dipertemukan kembali di halte stasiun pemberhentian kereta, untuk sekedar saling mengucapkan ” Selamat sudah sampai tujuan”…