Maaf, Ilalang

Ilalang,
Aku memohon maafmu
Bila penantian menjadi jeda yang tak terhingga.
Menanti, bukan adegan yang kita hendaki
Sebab kebisuan lah menjadi jawaban bertutur.

Seribu tanya yang dulu digurat dalam helai berduri
telah kupendam di rahim bumi
Tak perlu ia membaca luka dan juga terluka.

Benar, jarum gerimis masih mengusik debu ragu
cercah jawaban yang mengisi kesesakan ini.
Tetapi biarkan saja ia turut menanti.

Ilalang,
Aku memohon maafmu
Bila heningmu terusik oleh tanya ia.
Sebab kebisuan lah menjadi jawaban bertutur.

Tentu, aku akan kembali
Bukan membawa jawab ataupun tanya.
Ini, penantian, bukan kita hendaki.

Aku Bersajak Tentangmu, Disini Engkau Menangis Tersedu

Disini, ditempat ini, adalah kali terakhir aku melihatmu, menangis, tersedu.

entah apa yang ada di benakmu saat itu, aku benar benar tidak tau, barangkali itu adalah tangis bahagiamu karena pada hari itu, adalah hari dimana engkau barada pada dua masa, masa lalu dan masa depan.

atau mungkin itu adalah tangis terakhirmu yang hendak kau pertunjukan kepadaku.

entahlah, aku hanya mampu mengira, menerka, karena sejatinya manusia hanya mampu meraba, apalagi bagi kaum adam, yang hobinya adalah “meraba”

disini aku ingin bersajak tentangmu

bahwasanya engkau adalah orang terbaik yang pernah aku temui, bahwa sebenarnya engkau adalah gambaran dari wanita-wanita tegar, tegas dan tidak pernah kalah oleh lelah, sekaligus engkau adalah wanita yang begitu lembut,

oleh karena itu, dahulu aku benar benar takjub, dan hingga kini pun, kekaguman itu tidak pernah berkurang kadarnya.

dan kini kita berpisah disini di jembatan ini. tak perlu penjelasan, tak perlu di jelaskan, karena tidak akan mengubah laju kereta,  nasi sudah menjadi bubur, bilang saja, ini jalanku dan ini jalanmu meraih mimpi tak perlu orang tau,  hidup ini memang tidak boleh berpura-pura, tidak boleh di reka-reka atau di yasa-yasa.

barangkali saja kita akan dipertemukan kembali di halte stasiun pemberhentian kereta, untuk sekedar saling mengucapkan ” Selamat sudah sampai tujuan”…

Janji Juni sebuah Novel?

Bukan! ini bukan Novel,  bukan juga judul film, seperti yang saya tulis sebelumnya, janji juni, sekedar janji untuk diri sendiri,?

sejak kecil saya dididik untuk mandiri. dididik? oh tidak, orang tuaku bukan orang yang berpendidikan, mereka sekedar petani kecil di desa, yang penghasilannya cukup untuk bertahan hidup saja,  jadi mereka tidak sempat memikirkan pendidikan, meski begitu saya sangat hormat kepadanya, karena merekalah saya ada disini,

Belajar mandiri dari diri sendiri, semuanya serba sendiri, sejak SMP hingga lulus kuliah, semua serba mandiri, mengumpulkan uang receh untuk biaya sekolah dan harus rela berlapar lapar ria, mereka tidak pernah tau apa yang saya lakukan di ibukota ini, dan Tuhan pun tak tidur, ia bersama orang-orang yang gigih berupaya, dan ia penuhi janjinya, meski saya tidak mengerti sepenuhnya maksud dari janji tuhan itu, namun saya benar benar merasakan campur tangan Tuhan.

Bukan Janji Joni Tapi..?

Masih ingat Film Janji Joni Garapan Nia Dinata, film itu dirilis tahun 2005 silam, Janji Joni bercerita mengenai Joni (Nicholas Saputra)seorang pengantar roll film yang tidak pernah telat mengantar roll film antar bioskop. Joni yang telah bekerja sebagai pengantar secara turun-temurun ini bertekad untuk tepat waktu dan dapat diandalkan. Suatu hari saat dia bertemu dengan seorang wanita jelita (Mariana Renata)dan Joni menanyakan namanya. Tapi perempuan itu hanya akan memberitahukannya kalau Joni dapat mengantarkan roll-roll film tepat waktu hingga film yang ditonton tidak putus di tengan jalan.  ya sedikit mengingatkan kita tentang janji joni.. Lanjut membaca

Yang Hilang kan Datang, yang Pergi kan Terganti

Yang Hilang Kan dan Yang pergi kan terganti, satu kalimat  bijak yang saya dapat dari seorang teman, lebih tepatnya sahabat yang juga pernah saya anggap sebagai kekasih, ” Sahabatku Kekasihku” tidak tau apakah dia menganggapku juga demikian, tapi satu kata terakhir yang saya dengar adalah, ” Kita tidak pernah ada apa apa, selain hanya teman, ” hehe, tapi dulu, sebuah masa lalu silam,.. iapun hilang, barangkali sayalah yang menghilang.

seperti nasihat bijak itu, bahwa hidup ini selalu bergerak, tanpa henti, kitapun tidak pernah tau apa yang akan terjadi besok, bisa jadi orang-orang yang ada disamping kita, orang-orang yang kita cintai dengan tulus, ia akan menghilang, menentukan jalan hidupnya sendiri, atau di ” Tentukan” Jalan hidupnya oleh Tuhan, Lanjut membaca

Blog pada WordPress.com.
Tema: Esquire oleh Matthew Buchanan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 53 pengikut lainnya.